DUC IN ALTUM
Bertolak lebih dalam mengenai kisah kasih Tuhan dalam hidup kita dengan refleksi dan cerpen.
Minggu, 03 Mei 2020
KEPERGIANMU MENYADARKAN AKU (mengintip kisah pahit kesengsaraan dan perjuangan hidup anak-anak yang di tinggal pergi ayah karena ulah Narkoba )
Renyal gerimis menebarkan pesona di pagi yang cerah nan indah di setiap pelosok tanah air. Kilatan petir sambar-menyambar di atas awam yang mulai mengelap. Setiap insan ciptaan Tuhan mulai pontang-panting mengurusi diri mereka. Di setiap pelosok para ibu rumah tangga mulai bergegas memberesakan pakaian jemuran tadi malam. Para pelajar morat-marit mencari perlindungan di bawah atap seng kios-kiosan dan pertokoan. Situasi kacau karena gerimis. Kilatan petir terus mengancam di atas awan sana dan seluruh permukaan bumi telihat gelap di saput mendum. Teman-teman seperjalanan satu persatu lari meninggalkan aku untuk mencari perlindungan di balik rumah tua yang tak bertuan di pinggir jalan menujuh kampus. Diriku sama sekali tak memikirkan haluan untuk melindungi diri. Sehingga mukaku dengan bebas ditinju gerimis. Langkahku terus maju. Sepatuku berdetuk-detuk di atas trotoar dan menembusi tembok gerimis yang menghalangi langka banyak orang. Langit-langit terus murung disaput mendung. Sungguh pagi yang basah. Akan tetapi diriku terasa garing. Tenggorokkan kering. Ketika aku menjilat bibirku, ah, asinkah gerimis yang turun ini? Ataukah, air mataku yang merembes diam-diam? Aku berkeluh dalam hati. Peristiwa malam itu masih terbayang-bayang dalam pikiranku. Arah kisah hidupku kini tumpang tindih. Pikirku mungkin aku akan mengalami trauma seumur hidup.
Aku terus berlangka meskipun hanya seorang diri. Pijakan kakiku di atas trotoar yang sedang membasah seakan-akan menjadi kering. Trotoar di mana kakiku berpijak terdapat uapan kecil seakan-akan ada api di telapak kaki yang beralaskan sepatu ini, Juga Kerikil-kerikil pun memgempes tatkala terkena pijakanku. Menatap di samping kiri kanan seolah-olah gerimis yang sedang membasahi tanah ini membawah kesedihan yang terdalam bagi alam. Sehingga wajah alam yang sedang di saput gerimis ini pun menampilkan wajah yang tidak bersahabat. Pikirku mungkin alam turut merasakan kisah pahit ini. Sejak peristiwa itu hidupku terasa hampa dan tak berguna lagi. Dalam hati aku bertanya “Kenapa kisah hidup macam ini menimpa diriku?”. Kata-kata Yesus yang pernah ku dengar : adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak di lahirkan. Seolah-olah membujuk diriku untuk memikirkan keberadaan diriku di dunia ini, bahwa lebih baik aku tidak pernah dilahirkan di dunia, jika hidup ini jadi sengsara begini. Saat ini aku tidak tahu kemanakah harusku bersandar. Tidak ada lagi pengangan bagiku untuk terus bertahan hidup. Orang yang selama ini kepadanya aku bersandar kini sudah menyengsarakan hidupku dan keluarga. Keluargku yang penuh dengan kaharmonisan dan kedamain kini disulap menjadi rancu, kacau balau. Huffff…. Ayah kenapa jadi begini. Engkau sudah memilih arah jalan yang salah meskipun maksudmu benar. Bukankah hidup kita terasa aman dan damai meski sehari tanpa sepiring nasi. Kenapa ayah melakukan pekerjaan yang tidak halal. Kenapa harus menjerumuskan diri pada dunia gelap dengan tawaran narkoba yang adalah pembawah nikmat sesaat tapi menghancurkan seluruh hidup ayah dan keluarga kita. Aku rela untuk mengorbankan perkuliahanku tapi mengapa ayah harus berbuat demikian. Aku berkeluh dalam hati dan disposis batinku tak merasa nyaman dengan ligkungan di sekitarku .
Gerimis yang tadi hanya sekedar mebasahi tanah kini berubah menjadi rintik-rintik yang makin deras. Ajakan teman-teman di jauh sana, tak sedikitpun terdengar olehku. Sekejap aku bagaikan orang tuli yang tak bisa mendengarkan apa-apa. Hati yang sedang dilanda kesedihan menutupi semuanya. Semangat dan keceriahanku yang memikat banyak hati di kampus kini mengelap. Dunia sedih melihat diriku. Teman-teman seperjuangan yang setiap hari mencuri ilmu bersamaku di bangku kuliah terpaku kebingungan melihat diriku. Memandang diri mereka aku merasa diriku bagaikan seorang idiot yang pantas di benci dan dihina. Perbincangan yang mereka sampaikan tak sedikit pun direkam olehku. Pikiranku kosong. Aku sendiri meragukan eksistensi diriku. Beribu-ribu skenari komedi disusun teman-teman untuk menghibur diriku tapi hatiku mengubahnya menjadi skenari film hidup anak tiri yang menyedihkan. Mereka semua menatapku penuh kesedihan. “Sudahlah kawan..biarlah peristiwa ini menjadi pelajaran bagi dirimu dan juga kita semua bahwa narkoba tidak baik untuk masa depan kita. Jika kamu terus terlarut dalam kesedihan hidupmu pun akan hancur”. Salah seorang teman mencoba untuk menasehatiku.
Pakaianku yang tadi basa kuyup, mengering di tubuhku. Beribu-ribu bujukan dan tawaran datang padaku untuk tidak mengikuti les hari ini, tetapi aku berkehendak lain. Rumah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman bagi ku. Aku tak sudih Melihat rumahku, tempat di mana aku berlidung. Aku belum bisa menerima situasi. Ibu dan adik-adiku dibawa pergi, aku sendirian. Jika aku memaksakan diri untuk pulang, maka hanya ada kesepian dan kesunyian yang menemaniku.
Aku mencoba tuk menyendiri dari teman-teman di sudut kampus sembari menatap alam pagi yang disegarkan oleh gerimis tadi. Di bawah naungan sebuah pohon aku mencoba untuk menenangkan diriku dan memikirkan nasib keluargaku dan masa depanku. Sambil menarik nafas yang panjang aku berkata dalam hati “. Kapan semua ini selesai. Berita tentang ayah sudah tak terdengar lagi. mungkin dia sudah dieksekusi mati. Huffffff… Bagaimana dengan nasib mama dan adik-adikku. Apakah mereka baik-baik saja atau masih terbawa kesedihan. Pasti mama pun belum bisa menerima situasi ini. Perkataan teman tadi seolah-olah menjadi obat bagi diriku. Aku mencoba tuk merefleksikannya sambil memikirkan usiaku yang masih sangat mudah dan masa depan adik-adikku. Benar juga kata teman tadi. Aku harus melepaskan kesedihan ini. Aku memotivasi diriku. Perkatan yang dilontarkan teman tadi menjadi salah satu sumber primer untuk memulai dan mencoba menggores suatu lembaran baru dalam hidupku. Masih ada kesempatan bagiku tuk memperbaiki semuanya. Sekarang akulah satu-satunya tulang punggung keluarga, jika aku terus begini situasi pun tak pernah berubah. Ya…Selamanya aku akan terus begini. Peristiwa itu adalah sebuah gaib bagi ayah, aku beserta keluargaku dan takan aku membiarkan gaib itu tumbuh dalam diriku. Biaralah ayah membawah semua ini dalam dirinya. Biaralah semuanya terbawa oleh arus waktu yang berlalu.
Keramaian di pagi hari nan indah dan segar ini, memberi suatu inspirasi hidup bagi diriku. Seyuman sobat-sobatku menyambutku. Keceriaan mulai terpancar kembali dari wajah mereka yang tadi terpaku sedih karena diriku. Tuhan terima kasih banyak atas segala kebaikan-Mu. Engkau telah menghadirkan malaikat-malaikat untuk menghiburku dikala kesedihan datang mematahkan semangatku. Mereka semua adalah Malaikat utusan-Mu. Dalam hati aku menyampaikan ucapan syukur kepada Dia yang Maha Baik dan maha Penyanyang. Kerinduanku kepada ibu dan adik-adiku membuatku tak sabar tuk pergi dan menjemput serta merasa pelukan hangat dari ibu dan adik-adikku.
Kini dalam semangat baru, aku mencoba tuk membuka lembaran baru dalam hidupku bersama ibu dan adik-adikku. Lembaran lama yang sudah terlanjut tergores oleh kisah pahit itu biaralah pergi bersama Ayah. Tapi perbuatan baik ayah yang telah membesarkan aku dan adik-adikku, selalu dikenang oleh kami semua. Aku berjanji dalam diriku untuk mulai hari ini akan ada tembok kebencian antara aku dan dunia kegelapan NARKOBA. Dunia gelap yang telah menggoda ayah dan menarik ayah terjerumus di dalamnya, dunia yang memaksakan sebuah perpisahan antara aku dan ayah, dunia yang telah membuat diri ini terlanjur membenci ayah yang sudah membesarkan aku.
Akhirnya aku ingin menitipkan salam dan ucapan terimakasih kepada pemerintah yang dengan keras melawan dan memberontak kejahatan NARKOBA. Teruskan pekerjaan-Mu dan semoga Tidak ada lagi anak-anak yang menjadi korban karena Narkoba.
Jumat, 24 April 2020
ya Tuhanku, kenapa engkau tidak menolongku
Kisah inspiratif
ya Tuhanku, kenapa engkau tidak menolongku
Ada seorang laki-laki yang
tinggal di tengah sebuah kota. Kota itu
sedang dilanda oleh virus corona. Hampir setiap hari selalu ada korban, baik yang terinfeksi
maupun kematian akibat virus ini.
Karena melihat banyak yang
telah meninggal dan terinfeksi virus ini, maka pemerintah setempat mengeluarkan
perintah agar setiap warga tidak boleh keluar rumah, kegiatan ibadah, misa
ditiadakan dan menghimbau supaya setiap warga menghidari kerumunan serta
sekolah-sekolah pun diliburkan.
Virus makin memanas, rumah
sakit yang ada tidak mampu lagi untuk menampung para korban dan daerah itu pun
mulai kelihatan sepih seperti kota yang berhantu.
Lain dengan orang-orang
yang sudah mulai takut dan hanya diam di Rumah, lelaki tersebut tampak santai,
malas tahu dan mondar-mandiri ke sana-sini, cuek dan keras kepala. Ia sering di
tegur oleh pihak keamanan bahkan sampai dipukuli karena sikapnya itu.
“pak kalo mau selamat cepat masuk rumah jangan berkeliaran sembarang”
teriak salah seorang polisi patroli kepada laki-laki tersebut”.
Si lelaki itu menjawab: “ terima kasih pak atas teguranya. Saya tidak
takut, pasti Tuhan selalu melindungi saya umatnya yang sering rajing ke Gereja
dan berdoa”
Setelah beberapa kali di
tegur, akhirnya polisi yang berpatroli di tempat itu pun menghiraukan dia
ketika bertemu lelaki itu.
Angka kematian dan orang
yang terinfeksi di kota itu pun makin hari makin bertambah. Namun lelaki
tersebut masih tetap malas tahu, masih tetap keras kepala.
Datanglah petugas medis
yang kebetulan lewat di situ, menegur dan memarahi lelaki tersebut.
“pak di rumah saja, jagan sembarangan jalan, keadaan semakin tak
terkendali. Kemunkinan besar semua orang di kota ini akan terifeksi”
Lagi-lagi lelaki tersebut
berkata: trimaksih buat teguran dan
masukannya, saya orang beriman, saya yakin Tuhan akan selamatkan saya dari
keadaan ini.
Petugas medis ini pun
merasah resah dan pergi meninggalkan lelaki itu dengan sangat marah.
Perkiraan bahwa semua
warga kota ini akan terinfeksi virus, menjadi kenyataan. Namun lelaki itu
tampak masih keluar rumah dan berdoa sepanjan jalan.
Datanglah Mobil pengangkut
jenasah dengan beberapa tim medis di dalamnya. Mereka meilhat lelaki itu masih
berkeliaran di lorong-lorong pertekoan kota itu, dan dengan niat untuk
memuatnya pergi ke tempat karantina kota itu.
Maka teriaklah salah seorang petugas medis dari dalam mobi: “pak, cepat datang dan masuklah mobil”. Tetapi lagi-lagi lelaki
tersebut menjawab dengan teriak pula: “terima
kasih, anda tidak usah menolong saya. saya orang beriman dan rajin berdoa.
Tuhan pasti menyelamatkan saya”.
Warga di kota itu banyak
yang sudah terinfeksi dan banyak pula yang sudah meninggal.
Bagaimana nasib lelaki
tersebut?
Lelaki tersebut akhirnya terinfeksi
virus dan mati tergeletak di pinggir jalan.
Di akhirat dia dihadapkan
pada Tuhan. Lelaki ini kemudian mulai berbicara bernada protes; Ya Tuhan, aku selalu berdoa padaMu, rajin je
Gereja, selalu mengindahkan perintah-perintahMu, tapi kenapa aku tidak Engkau
selamatkan dari wabah virus itu?
Tuhan menjawab dengan
singkat: “Aku selalu mendengar doa-doamu,
untuk itu Aku mengirimkan Polisi, kemudia para petugas medis untuk menegurmu
dan menyelamatkanmu. Tetapi kenapa kamu tidak ikut salah satupun?
Berhadapan dengan situasi saat ini,
kita sangat mengaharapkan Kuasa Tuhan, maka kita sering berdoa, mengikuti
perayaan ekaristi secara live streaming dan beribadat di setiap rumah pada hari
minggu. Namun terkadang kita pun masih protes terhadap Tuhan mengapa, virus ini
masih tetap ada?, mengapa Tuhan belum saja menyelamatkan dunia dari wabah virus
corona ini. Kita tidak sadar bahwa doa-doa yang kita sampaikan itu sudah
terdengar oleh Tuhan. Tindakan pemerintah untuk menertibkan warganya, untuk
berdiam di rumah, meniadakan kegiatatan keagamaan maupun kegiatan lain,
meliburkan sekolah-sekolah. Semua itu adalah hasil dari doa-doa kita. Semoga
kita tetap menertibkan diri untuk membantu pemerintah dalam melawan virus
corona dan percayalah bahwa setiap darasan doa kita pasti selalu dikabulkan
oleh Tuhan. Sebab bagi Tuhan tidak ada yang tidak mungkin.
Narasi Karya Keselamatan Allah
NARASI REFLEKTIF KARYA KESELAMATAN ALLAH
Pada awal mula
Allah menciptakan bumi, segala sesuatu terlihat indah. Alam jagat raya beserta isinya yang diciptakan Allah dalam tempo enam hari ini terlihat indah dan
penuh keharmonisan. Tidak mengenal apa itu dosa, tidak mengenal apa itu
kekacaun, tidak mengenal pula keburukan dan lain sebagainya. Semua terlihat
bersih dan indah. Keharmonisan menjelajahi seluruh ciptaan Tuhan. Manusia yang
merupakan ciptaan Allah yang paling sempurna di antara ciptaan lain diberi
kuasa untuk memilihara keindahan ini. Semuanya berjalan dengan baik sebagaimana
yang dikehendaki Allah. Karya
keselamatan dan kebaikan Allah seolah-olah menjadi bagian dari hidup manusia.
Tanpa ada sekat, baik di antara Allah dengan manusia maupun manusia dengan sesama ciptaanya. Semua
terlihat sempurna dan aman sempurna.
Namun di tengah
kesempurnaan ini ada setitik dosa yang terselip pula di dalamnya dan Allah pun
sudah memberi pembatas agar manusia tidak boleh menyentuhnya. Berjalannya waktu
mereka pun bertumbuh bersama dalam satu ruang kehidupan. Namun karena kuasa
yang terlabel dalam diri manusia untuk menguasai ciptaan-ciptaan lain terus
mengikat dan menjadikan manusia itu bebas, akhirnya terbuka pulalah ruang bagi
dosa untuk berkembang dalam diri manusia dan menggoda manusia untuk menciptakan
pula hasrat untuk berkuasa setara dengan Penciptanya. Hasrat itu berkembang dan
menghancurkan batasan yang Allah buat. Manusia yang masih sangat polos tergoda
oleh bisikan ular, menyentu larangan itu, dan dinikmatinya. Al hasilnya
terbukalah mata manusia akan identitas dirinya dan dari situ dia pun mengatahui
bahwa dia telah berbuat dosa, lalu berusaha bersembunyi dari Allah.
Situasi ini
mengakibatkan suatu batin yang seakan-akan tertekan dan kenyaman diri pun
perlahan-lahan tergores dan pada akhirnya menjadi luka besar. Rasa malu dan
ketakutan mulai menyambar kehidupan manusia yang dahulunya bersahabat dengan
Allah. Situasi keberdosaan itu memaksa Allah untuk bert indak jauh dari yang
seharusnya terjadi. Mulai ada sekat antara Allah dan manusia, kutukan mulai
diletakkan kepada bahu manusia dan segala beban kehidupan pun mulai berdatangan.
Situasi peperangan pun mulai nampak antara manusia dan ular penggoda. Situasi
intoleransi dan iri hati mulai menghiasi keturunan dari manusia pertama,
sehingga berujung pada kekerasan dan pembunuhan.
Namun demikian
Allah yang adalah pencipta selalu menciptakan ruang bagi manusia untuk kembali.
Namun karena manusia sudah terlanjur ditulari virus dosa dari keturunan ke
keturanan, kesetiaan yang seharus dilakoni oleh manusia kepada Allah pun mulai
terlihat pudar meskipu Allah itu tetap setia. Ketidaktaataan, kecenderungan untuk
berbuat dosa, amara, benci, iri hati, dendam, saling menuduh, dan situasi
peperangan menjadi ciri khas hidup manusia.
Karya keselamatan
Allah terus terus mengairi dan mengisi bak penampungan hati manusia. Namun
aliran kebaikan Allah ini tidak pernah terisi dan tertampung. Merskipun tertampung
tidak bertahan lama, karena bak penampungan yang dimiliki manusia sudah
terlanjur bocor meskipun berulang kali diperbaiki atau bak penampung manusia
sering kali tertutup dan tertutup. Namun Allah tidak pernah lelah untuk
mengaliri rahmatnya kepada manusia. Rahmat Allah terus mengalir sepanjang masa,
dari keturunan ke keturunan.
Allah dengan
beribu-ribu cara tetap mau menyelamatkan manusia dari situasi keberdosaan itu.
Oleh karena itu, ia mengutus nabi, orang-orang pilihanNya, hingga PutraNya yang
Tunggal, hanya demi penebusan dosa manusia. Pada masa para nabi, segala
perintah dan ketetapan dibuat demi meluruskan kembali hidup manusia, namun
semuanya berakhir pada penghianatan dan ketidaksetiaan kepada Allah. Manusia
membunuh, menfitnah dan menjerumuskan mereka kedalam jurang kematian. Hal
serupa pun terjadi pada diri Anak TunggalNya.
Demi kasih Allah
kepada manusia Anak TunggalNya pun di korbankan. Dia yang memiliki segala kuasa
dan segala rahmat , diutus ke dunia, mengambil rupa seperti manusia kecuali
dalam hal dosa. Melalui Dia Allah bekerja. Kepenuhan Kuasa Allah ada dalam
diriNya. Dalam diriNya Allah menyata, dan bersolider dengan manusia. Dalam
diriNya karya keselamatan Allah kepada Manusia terpenuhi. Dengan keutuhan kuasa
Allah, ia bersolider dan berempati dengan manusia; yang sakit disembuhkannya,
yang mati dibangkitkannya, yang lapar diberinya makan, yang haus diberinya
minum, yang sedih diberinya penghiburan, yang menderita diberinya kegembiraan
hidup, segalanya Ia perbuat demi keselamatan manusia. Namun segala kebaikannya
dibalas dengan keserakahan manusia.
Dia yang kudus dan
suci, difitnah, dibenci, dicaci maki, dibuli, dianiaya hingga berunjung pada
kematian yang hampir setara dengan para penjahat. Ia seolah-olah dilihat sebagai
penjahat yang datang mengganggu kenyamanan kerakusan kekuasaan manusia. Dunia
yang yang seharusnya terang berubah menjadi gelap gulita. Hati yang seharus
penuh cinta disulap menjadi amarah. Kayu salib yang seharusnya hanya untuk
orang jahat terpaksa harus diletakkan pada diriNya yang adalah Putra Allah. Dia
mampu melawan semuanya itu namun seolah-olah Dia tak mampu. Dia berpasrah, Dia
mengalah dan Dia mau menderita demi manusia. Dia berpasrah, mengalah, menderita
bukan berarti dia takut, tapi di berpasrah untuk menang, Dia mengalah untuk
kebaikan dan Dia menderita untuk keselamatan Manusia. Semua situasi keberdosaan
Manusia yang diletakan pada bahunnya melalui kayu salib Ia membawanya masuk
kedalam liang kubur yang gelap gulita. Semua keburukan dosa manusia terkubur
bersamanya dalam liang Kubur. Tubuh manusia yang dikenakan pada DiriNya telah
ia bawah bersama segalah dosa masuk kedalam liang kubur. Di sana ia menang.
Maut dan dosa telah ia kalahkan. Maha Karya Allah terpenuhi dan Ia bangkit
dengan membawah suatu hidup baru bagi manusia.
Keselamatan
berdatangan dalam diri manusia dan manusia pun turut merasakan kemenangan itu,
meskipun kecenderungan manusia untuk berdosa tetap ada. Tapi segalanya telah ia
tebusi, segalahnya telah Ia kalahkan. Hanya kepadaNya keselamatan berasal hanya
kepadaNya kebahagiaan terpenuhi. RohNya tetap selalu setia menemani manusia,
memperbaharui manusia dan mengangkat manusia ketika manusia jatuh dalam jurang
dosa, asalakan manusia ingin membuka diri dan menanggapi rahmat keselamatan
yang datang dariNya.
Dalam situasi saat
ini, berhadapan dengan wabah covid-19, kita berharap karya keselamatan Allah
akan datang dalam diri kita, dalam dunia saat ini. Namun kita perlu kembali
masuk dalam diri kita mengintrospeksi diri; sejauh mana iman kita berkembang,
sejauh mana kita menghayati karya keselamatan Allah kepada diri kita, jangan
sampai penghayatan kita terhadap karya keselamatan Allah hanya pada saat kita
dalam situasi sulit seperti yang kita hadapi saat ini ataukah memang dalam diri
kita selalu mendambakan karya keselamatan Allah setiap hari. Dalam bingkai Masa
Paskah ini, kita percaya bahwa karya keselamatan Allah pasti akan menaungi
umatnya. Kebangkita putraNya Yesus Kristus akan membawa kemenangan baru bagi
manusia zaman ini yaitu kemenangan atas penderitaan akibat wabah Covid-19 ini.
Narasi reflektif
ini ditulis dengan tujuan untuk menbuka kembali lembaran keselamatan Allah
terhadap manusia mulai dari awal kisah penciptaan sampai dengan kebangkitan
Kristus dan relevansinya pada situasi sekarang. Kaitannya dengan situasi
sekarang dalam refleksi ini saya percaya bahwa Allah akan membuka lagi satu
lembaran karya keselamatanNya kepada umatNya melalui kebangkitan Kristus yang
sedang kita hayati ini.
Langganan:
Komentar (Atom)