NARASI REFLEKTIF KARYA KESELAMATAN ALLAH
Pada awal mula
Allah menciptakan bumi, segala sesuatu terlihat indah. Alam jagat raya beserta isinya yang diciptakan Allah dalam tempo enam hari ini terlihat indah dan
penuh keharmonisan. Tidak mengenal apa itu dosa, tidak mengenal apa itu
kekacaun, tidak mengenal pula keburukan dan lain sebagainya. Semua terlihat
bersih dan indah. Keharmonisan menjelajahi seluruh ciptaan Tuhan. Manusia yang
merupakan ciptaan Allah yang paling sempurna di antara ciptaan lain diberi
kuasa untuk memilihara keindahan ini. Semuanya berjalan dengan baik sebagaimana
yang dikehendaki Allah. Karya
keselamatan dan kebaikan Allah seolah-olah menjadi bagian dari hidup manusia.
Tanpa ada sekat, baik di antara Allah dengan manusia maupun manusia dengan sesama ciptaanya. Semua
terlihat sempurna dan aman sempurna.
Namun di tengah
kesempurnaan ini ada setitik dosa yang terselip pula di dalamnya dan Allah pun
sudah memberi pembatas agar manusia tidak boleh menyentuhnya. Berjalannya waktu
mereka pun bertumbuh bersama dalam satu ruang kehidupan. Namun karena kuasa
yang terlabel dalam diri manusia untuk menguasai ciptaan-ciptaan lain terus
mengikat dan menjadikan manusia itu bebas, akhirnya terbuka pulalah ruang bagi
dosa untuk berkembang dalam diri manusia dan menggoda manusia untuk menciptakan
pula hasrat untuk berkuasa setara dengan Penciptanya. Hasrat itu berkembang dan
menghancurkan batasan yang Allah buat. Manusia yang masih sangat polos tergoda
oleh bisikan ular, menyentu larangan itu, dan dinikmatinya. Al hasilnya
terbukalah mata manusia akan identitas dirinya dan dari situ dia pun mengatahui
bahwa dia telah berbuat dosa, lalu berusaha bersembunyi dari Allah.
Situasi ini
mengakibatkan suatu batin yang seakan-akan tertekan dan kenyaman diri pun
perlahan-lahan tergores dan pada akhirnya menjadi luka besar. Rasa malu dan
ketakutan mulai menyambar kehidupan manusia yang dahulunya bersahabat dengan
Allah. Situasi keberdosaan itu memaksa Allah untuk bert indak jauh dari yang
seharusnya terjadi. Mulai ada sekat antara Allah dan manusia, kutukan mulai
diletakkan kepada bahu manusia dan segala beban kehidupan pun mulai berdatangan.
Situasi peperangan pun mulai nampak antara manusia dan ular penggoda. Situasi
intoleransi dan iri hati mulai menghiasi keturunan dari manusia pertama,
sehingga berujung pada kekerasan dan pembunuhan.
Namun demikian
Allah yang adalah pencipta selalu menciptakan ruang bagi manusia untuk kembali.
Namun karena manusia sudah terlanjur ditulari virus dosa dari keturunan ke
keturanan, kesetiaan yang seharus dilakoni oleh manusia kepada Allah pun mulai
terlihat pudar meskipu Allah itu tetap setia. Ketidaktaataan, kecenderungan untuk
berbuat dosa, amara, benci, iri hati, dendam, saling menuduh, dan situasi
peperangan menjadi ciri khas hidup manusia.
Karya keselamatan
Allah terus terus mengairi dan mengisi bak penampungan hati manusia. Namun
aliran kebaikan Allah ini tidak pernah terisi dan tertampung. Merskipun tertampung
tidak bertahan lama, karena bak penampungan yang dimiliki manusia sudah
terlanjur bocor meskipun berulang kali diperbaiki atau bak penampung manusia
sering kali tertutup dan tertutup. Namun Allah tidak pernah lelah untuk
mengaliri rahmatnya kepada manusia. Rahmat Allah terus mengalir sepanjang masa,
dari keturunan ke keturunan.
Allah dengan
beribu-ribu cara tetap mau menyelamatkan manusia dari situasi keberdosaan itu.
Oleh karena itu, ia mengutus nabi, orang-orang pilihanNya, hingga PutraNya yang
Tunggal, hanya demi penebusan dosa manusia. Pada masa para nabi, segala
perintah dan ketetapan dibuat demi meluruskan kembali hidup manusia, namun
semuanya berakhir pada penghianatan dan ketidaksetiaan kepada Allah. Manusia
membunuh, menfitnah dan menjerumuskan mereka kedalam jurang kematian. Hal
serupa pun terjadi pada diri Anak TunggalNya.
Demi kasih Allah
kepada manusia Anak TunggalNya pun di korbankan. Dia yang memiliki segala kuasa
dan segala rahmat , diutus ke dunia, mengambil rupa seperti manusia kecuali
dalam hal dosa. Melalui Dia Allah bekerja. Kepenuhan Kuasa Allah ada dalam
diriNya. Dalam diriNya Allah menyata, dan bersolider dengan manusia. Dalam
diriNya karya keselamatan Allah kepada Manusia terpenuhi. Dengan keutuhan kuasa
Allah, ia bersolider dan berempati dengan manusia; yang sakit disembuhkannya,
yang mati dibangkitkannya, yang lapar diberinya makan, yang haus diberinya
minum, yang sedih diberinya penghiburan, yang menderita diberinya kegembiraan
hidup, segalanya Ia perbuat demi keselamatan manusia. Namun segala kebaikannya
dibalas dengan keserakahan manusia.
Dia yang kudus dan
suci, difitnah, dibenci, dicaci maki, dibuli, dianiaya hingga berunjung pada
kematian yang hampir setara dengan para penjahat. Ia seolah-olah dilihat sebagai
penjahat yang datang mengganggu kenyamanan kerakusan kekuasaan manusia. Dunia
yang yang seharusnya terang berubah menjadi gelap gulita. Hati yang seharus
penuh cinta disulap menjadi amarah. Kayu salib yang seharusnya hanya untuk
orang jahat terpaksa harus diletakkan pada diriNya yang adalah Putra Allah. Dia
mampu melawan semuanya itu namun seolah-olah Dia tak mampu. Dia berpasrah, Dia
mengalah dan Dia mau menderita demi manusia. Dia berpasrah, mengalah, menderita
bukan berarti dia takut, tapi di berpasrah untuk menang, Dia mengalah untuk
kebaikan dan Dia menderita untuk keselamatan Manusia. Semua situasi keberdosaan
Manusia yang diletakan pada bahunnya melalui kayu salib Ia membawanya masuk
kedalam liang kubur yang gelap gulita. Semua keburukan dosa manusia terkubur
bersamanya dalam liang Kubur. Tubuh manusia yang dikenakan pada DiriNya telah
ia bawah bersama segalah dosa masuk kedalam liang kubur. Di sana ia menang.
Maut dan dosa telah ia kalahkan. Maha Karya Allah terpenuhi dan Ia bangkit
dengan membawah suatu hidup baru bagi manusia.
Keselamatan
berdatangan dalam diri manusia dan manusia pun turut merasakan kemenangan itu,
meskipun kecenderungan manusia untuk berdosa tetap ada. Tapi segalanya telah ia
tebusi, segalahnya telah Ia kalahkan. Hanya kepadaNya keselamatan berasal hanya
kepadaNya kebahagiaan terpenuhi. RohNya tetap selalu setia menemani manusia,
memperbaharui manusia dan mengangkat manusia ketika manusia jatuh dalam jurang
dosa, asalakan manusia ingin membuka diri dan menanggapi rahmat keselamatan
yang datang dariNya.
Dalam situasi saat
ini, berhadapan dengan wabah covid-19, kita berharap karya keselamatan Allah
akan datang dalam diri kita, dalam dunia saat ini. Namun kita perlu kembali
masuk dalam diri kita mengintrospeksi diri; sejauh mana iman kita berkembang,
sejauh mana kita menghayati karya keselamatan Allah kepada diri kita, jangan
sampai penghayatan kita terhadap karya keselamatan Allah hanya pada saat kita
dalam situasi sulit seperti yang kita hadapi saat ini ataukah memang dalam diri
kita selalu mendambakan karya keselamatan Allah setiap hari. Dalam bingkai Masa
Paskah ini, kita percaya bahwa karya keselamatan Allah pasti akan menaungi
umatnya. Kebangkita putraNya Yesus Kristus akan membawa kemenangan baru bagi
manusia zaman ini yaitu kemenangan atas penderitaan akibat wabah Covid-19 ini.
Narasi reflektif
ini ditulis dengan tujuan untuk menbuka kembali lembaran keselamatan Allah
terhadap manusia mulai dari awal kisah penciptaan sampai dengan kebangkitan
Kristus dan relevansinya pada situasi sekarang. Kaitannya dengan situasi
sekarang dalam refleksi ini saya percaya bahwa Allah akan membuka lagi satu
lembaran karya keselamatanNya kepada umatNya melalui kebangkitan Kristus yang
sedang kita hayati ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar