Jumat, 24 April 2020

Narasi Karya Keselamatan Allah



NARASI REFLEKTIF KARYA KESELAMATAN ALLAH
Pada awal mula Allah menciptakan bumi, segala sesuatu terlihat indah. Alam jagat raya  beserta isinya yang diciptakan Allah dalam tempo enam hari ini terlihat indah dan penuh keharmonisan. Tidak mengenal apa itu dosa, tidak mengenal apa itu kekacaun, tidak mengenal pula keburukan dan lain sebagainya. Semua terlihat bersih dan indah. Keharmonisan menjelajahi seluruh ciptaan Tuhan. Manusia yang merupakan ciptaan Allah yang paling sempurna di antara ciptaan lain diberi kuasa untuk memilihara keindahan ini. Semuanya berjalan dengan baik sebagaimana yang dikehendaki Allah.  Karya keselamatan dan kebaikan Allah seolah-olah menjadi bagian dari hidup manusia. Tanpa ada sekat, baik di antara Allah dengan manusia maupun  manusia dengan sesama ciptaanya. Semua terlihat sempurna dan aman sempurna.
Namun di tengah kesempurnaan ini ada setitik dosa yang terselip pula di dalamnya dan Allah pun sudah memberi pembatas agar manusia tidak boleh menyentuhnya. Berjalannya waktu mereka pun bertumbuh bersama dalam satu ruang kehidupan. Namun karena kuasa yang terlabel dalam diri manusia untuk menguasai ciptaan-ciptaan lain terus mengikat dan menjadikan manusia itu bebas, akhirnya terbuka pulalah ruang bagi dosa untuk berkembang dalam diri manusia dan menggoda manusia untuk menciptakan pula hasrat untuk berkuasa setara dengan Penciptanya. Hasrat itu berkembang dan menghancurkan batasan yang Allah buat. Manusia yang masih sangat polos tergoda oleh bisikan ular, menyentu larangan itu, dan dinikmatinya. Al hasilnya terbukalah mata manusia akan identitas dirinya dan dari situ dia pun mengatahui bahwa dia telah berbuat dosa, lalu berusaha bersembunyi dari Allah.
Situasi ini mengakibatkan suatu batin yang seakan-akan tertekan dan kenyaman diri pun perlahan-lahan tergores dan pada akhirnya menjadi luka besar. Rasa malu dan ketakutan mulai menyambar kehidupan manusia yang dahulunya bersahabat dengan Allah. Situasi keberdosaan itu memaksa Allah untuk bert indak jauh dari yang seharusnya terjadi. Mulai ada sekat antara Allah dan manusia, kutukan mulai diletakkan kepada bahu manusia dan segala beban kehidupan pun mulai berdatangan. Situasi peperangan pun mulai nampak antara manusia dan ular penggoda. Situasi intoleransi dan iri hati mulai menghiasi keturunan dari manusia pertama, sehingga berujung pada kekerasan dan pembunuhan.
Namun demikian Allah yang adalah pencipta selalu menciptakan ruang bagi manusia untuk kembali. Namun karena manusia sudah terlanjur ditulari virus dosa dari keturunan ke keturanan, kesetiaan yang seharus dilakoni oleh manusia kepada Allah pun mulai terlihat pudar meskipu Allah itu tetap setia. Ketidaktaataan, kecenderungan untuk berbuat dosa, amara, benci, iri hati, dendam, saling menuduh, dan situasi peperangan menjadi ciri khas hidup manusia.
Karya keselamatan Allah terus terus mengairi dan mengisi bak penampungan hati manusia. Namun aliran kebaikan Allah ini tidak pernah terisi dan tertampung. Merskipun tertampung tidak bertahan lama, karena bak penampungan yang dimiliki manusia sudah terlanjur bocor meskipun berulang kali diperbaiki atau bak penampung manusia sering kali tertutup dan tertutup. Namun Allah tidak pernah lelah untuk mengaliri rahmatnya kepada manusia. Rahmat Allah terus mengalir sepanjang masa, dari keturunan ke keturunan.
Allah dengan beribu-ribu cara tetap mau menyelamatkan manusia dari situasi keberdosaan itu. Oleh karena itu, ia mengutus nabi, orang-orang pilihanNya, hingga PutraNya yang Tunggal, hanya demi penebusan dosa manusia. Pada masa para nabi, segala perintah dan ketetapan dibuat demi meluruskan kembali hidup manusia, namun semuanya berakhir pada penghianatan dan ketidaksetiaan kepada Allah. Manusia membunuh, menfitnah dan menjerumuskan mereka kedalam jurang kematian. Hal serupa pun terjadi pada diri Anak TunggalNya.
Demi kasih Allah kepada manusia Anak TunggalNya pun di korbankan. Dia yang memiliki segala kuasa dan segala rahmat , diutus ke dunia, mengambil rupa seperti manusia kecuali dalam hal dosa. Melalui Dia Allah bekerja. Kepenuhan Kuasa Allah ada dalam diriNya. Dalam diriNya Allah menyata, dan bersolider dengan manusia. Dalam diriNya karya keselamatan Allah kepada Manusia terpenuhi. Dengan keutuhan kuasa Allah, ia bersolider dan berempati dengan manusia; yang sakit disembuhkannya, yang mati dibangkitkannya, yang lapar diberinya makan, yang haus diberinya minum, yang sedih diberinya penghiburan, yang menderita diberinya kegembiraan hidup, segalanya Ia perbuat demi keselamatan manusia. Namun segala kebaikannya dibalas dengan keserakahan manusia.
Dia yang kudus dan suci, difitnah, dibenci, dicaci maki, dibuli, dianiaya hingga berunjung pada kematian yang hampir setara dengan para penjahat. Ia seolah-olah dilihat sebagai penjahat yang datang mengganggu kenyamanan kerakusan kekuasaan manusia. Dunia yang yang seharusnya terang berubah menjadi gelap gulita. Hati yang seharus penuh cinta disulap menjadi amarah. Kayu salib yang seharusnya hanya untuk orang jahat terpaksa harus diletakkan pada diriNya yang adalah Putra Allah. Dia mampu melawan semuanya itu namun seolah-olah Dia tak mampu. Dia berpasrah, Dia mengalah dan Dia mau menderita demi manusia. Dia berpasrah, mengalah, menderita bukan berarti dia takut, tapi di berpasrah untuk menang, Dia mengalah untuk kebaikan dan Dia menderita untuk keselamatan Manusia. Semua situasi keberdosaan Manusia yang diletakan pada bahunnya melalui kayu salib Ia membawanya masuk kedalam liang kubur yang gelap gulita. Semua keburukan dosa manusia terkubur bersamanya dalam liang Kubur. Tubuh manusia yang dikenakan pada DiriNya telah ia bawah bersama segalah dosa masuk kedalam liang kubur. Di sana ia menang. Maut dan dosa telah ia kalahkan. Maha Karya Allah terpenuhi dan Ia bangkit dengan membawah suatu hidup baru bagi manusia.
Keselamatan berdatangan dalam diri manusia dan manusia pun turut merasakan kemenangan itu, meskipun kecenderungan manusia untuk berdosa tetap ada. Tapi segalanya telah ia tebusi, segalahnya telah Ia kalahkan. Hanya kepadaNya keselamatan berasal hanya kepadaNya kebahagiaan terpenuhi. RohNya tetap selalu setia menemani manusia, memperbaharui manusia dan mengangkat manusia ketika manusia jatuh dalam jurang dosa, asalakan manusia ingin membuka diri dan menanggapi rahmat keselamatan yang datang dariNya.
Dalam situasi saat ini, berhadapan dengan wabah covid-19, kita berharap karya keselamatan Allah akan datang dalam diri kita, dalam dunia saat ini. Namun kita perlu kembali masuk dalam diri kita mengintrospeksi diri; sejauh mana iman kita berkembang, sejauh mana kita menghayati karya keselamatan Allah kepada diri kita, jangan sampai penghayatan kita terhadap karya keselamatan Allah hanya pada saat kita dalam situasi sulit seperti yang kita hadapi saat ini ataukah memang dalam diri kita selalu mendambakan karya keselamatan Allah setiap hari. Dalam bingkai Masa Paskah ini, kita percaya bahwa karya keselamatan Allah pasti akan menaungi umatnya. Kebangkita putraNya Yesus Kristus akan membawa kemenangan baru bagi manusia zaman ini yaitu kemenangan atas penderitaan akibat wabah Covid-19 ini.
Narasi reflektif ini ditulis dengan tujuan untuk menbuka kembali lembaran keselamatan Allah terhadap manusia mulai dari awal kisah penciptaan sampai dengan kebangkitan Kristus dan relevansinya pada situasi sekarang. Kaitannya dengan situasi sekarang dalam refleksi ini saya percaya bahwa Allah akan membuka lagi satu lembaran karya keselamatanNya kepada umatNya melalui kebangkitan Kristus yang sedang kita hayati ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar